Santri selama di pondok dilarang merokok karena di pondok memang ada larangan merokok. Namun saat kembali ke rumah atau setelah tidak mondok lagi mereka kembali merokok. Mengapa?

Pendidikan yang diterapkan di sekolah atau pondok terkadang tidak sejalan dengan yang diberikan lingkungan keluarga dan masyarakat. Salah satu contohnya, ya dalam hal rokok tersebut.

Sekolah atau pondok sudah banyak yang steril dari rokok karena sudah menjadi program pemerintah secara nasional. Lingkungan sekolah menjadi sasaran utama kampanye bebas asap rokok mengingat dampak negatifnya yang luar biasa bagi perkembangan generasi yang akan datang.

Namun pemerintah belum bisa menghapus peredaran rokok di masyarakat mengingat banyak aspek yang harus dipertimbangkan. Pemerintah hanya mencantumkan tulisan “MEROKOK MEMBUNUHMU” di bungkus rokok dengan harapan mengurangi minat merokok.

Akibatnya siswa atau santri yang di sekolah atau pondok sudah didoktrin dengan larangan merokok, di rumah menjumpai kenyataan berbeda. Terjadi konflik nilai dalam dirinya dan tidak tertutup kemungkinan si anak akan kalah. Anak kembali merokok di lingkungan keluarga dan masyarakatnya.

Agar anak tegar untuk tidak merokok, haruslah ditanamkan keyakinan yang kuat alasan menjauhi rokok. Lebih penting lagi, alasan-alasan tersebut haruslah dapat diterima oleh akal mereka, disampaikan secara berjenjang dan terus menerus. Jadi tidak cukup dengan memasang spanduk “Bebaskan Sekolah/Pondok dari Asap Rokok”.

Bagi kami di Babussalam, alasan menjauhi rokok adalah sbb,

1. Semboyan Babussalam adalah Al Quran Qs An Nisa’ (4): 9. Yaitu perintah meninggalkan keturunan yang kuat, diantaranya kuat fisiknya. Merokok akan melemahkan fisik, atau mendatangkan penyakit, sehingga harus dijauhi.

2. Merokok merupakan perbuatan mubazhir, menghambur-hamburkan uang. Lebih baik uang digunakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat.

3. Keseluruhan uang untuk belanja rokok dalam satu negara jumlahnya sangat fantastis. Jika dialokasikan untuk menunjang dakwah Islam, tentunya akan berdampak sangat signifikan.

4. Pemerintah memang menerima pemasukan cukai dari industri rokok. Namun anggaran yang harus dikeluarkan untuk pengobatan penyakit akibat merokok jauh lebih besar.

Hal-hal seperti ini harus ditanamkan kepada siswa/santri sehingga timbul kesadaran penuh untuk tidak merokok. Merokok bukan saja tidak baik untuk kesehatan, merokok adalah perbuatan mubazhir, merokok juga menciptakan generasi yang lemah.

Dengan menjauhi rokok, insya Allah akan dilahirkan generasi yang kuat, generasi yang mampu melaksanakan dakwah Islam dengan semangat. Bukan generasi loyo, bukan generasi yang batuk-batuk saat memberikan ceramah.

Ayo terus kita upayakan agar siswa/santri menjauhi rokok, kapan dan dimana pun dia berada.

 

Photo by Lukas from Pexels

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here