Siapa orang sunda teh ? Orang Sunda adalah masyarakat yang hidup di tanah pasundan (wilayah  Jawa Barat) dan berbahasa Sunda. Secara Etimologi (asal katanya) sunda berasal dari kata sund atau suddha dalam bahasa Sansekerta yang mempunyai pengertian bersinar, terang, berkilau, putih.

Suryawilaga (2010) memaparkan kriteria orang sunda sebagai berikuit:

  1. Sunda Subyektif, yaitu bila seseorang berdasarkan pertimbangan subyektifnya merasa bahwa dirinya adalah Orang Sunda, maka dia adalah orang Sunda
  2. Sunda Obyektif, yaitu bila seseorang dianggap oleh orang lain sebagai Urang Sunda, maka orang tersebut sepantasnya mampu mengaktulisasikan anggapan orang lain tersebut. bahwa dirinya benar- benar Urang Sunda.
  3. Sunda Genetik, yaitu seseorang yang secara keturunan dari orang tuanya mempunyai silsilah Urang Sunda pituin (Orang Sunda asli).
  4. Sunda Sosio Kultural. Bila seseorang mempunyai ibu dan bapak atau salah satu di antaranya bukan Urang Sunda pituin (asli); tetapi walaupun demikian dalam kehidupan kesehariannya, baik dalam perilaku, adat-istiadat, berbahasa, berkesenian dan berkebudayaan, berfikir serta mempunyai konsep hidup seperti Urang Sunda.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka pangertian tentang Urang Sunda tidak perlu berkonotasi rasis. Adapun yang terpenting dari setiap orang yang mengaku sebagai Urang Sunda adalah mempunyai komitmen teguh dalam mewujudkan kehidupan masyarakat Urang Sunda yang sejahtera lahir batin. Selamat dunia dan akhirat.

Ada ungkapan yang menyebutkan bahwa “tatar sunda dibuat ketika Tuhan tersenyum.” Ini merupakan gambaran alangkah indah,  aman dan nyamannya kondisi tempat tinggal alam parahiyangan. Hal ini mempengaruhi karakteristik orang sunda itu sendiri, sebagaimana hasil penelitian Moriyama yang menyebutkan bahwa karakteristik orang sunda yang khas dengan keramahtamahannya, sopan, pandai bergaul, sederhana dan disisi lain memunculkan sifat terselubung kurang inisiatif, boros dan pandai mencari muka.

Selain itu, bila ingin mengenal orang Sunda, paling tidak yang sudah populer adalah sosok si Kabayan. Bagaimana sosok si kabayan ? Dalam ceritanya, Si kabayan hidup di lingkungan pegunungan yang subur seperti sebagian besar wilayah Jawa Barat yang merupakan lingkungan yang subur, Lingkungan yang subur berpengaruh terhadap masyarakat yang tinggal didalamnya yaitu menjadikan karakter seperti yang melekat pada sosok si kabayan.

Lingkungan yang subur dapat memanjakan seseorang yang tinggal didalamnya, Orang-orang mengenal Sosok kabayan adalah orang yang hidup apa adanya, jujur, sederhana, polos  dan menikmati hidupnya. Karakter kabayan menjadi  sosok yang mewakili orang Sunda yang mempunyai karakter seperti Si Kbayan tersebut. Dengan demikian orang luar Jawa Barat mempunyai stereotip negatif mengenai orang Sunda yaitu pemalas, tidak percaya diri  dan bukan pekerja keras. Karena stereotip tersebut orang Sunda menjadi sulit untuk dapat dipercaya menjadi pemimpin dan jabatan2 strategis pada tataran Nasional. Bahkan dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan di UPI Bandung, Rektor Unpad Prof. Dr. Gandjar Kurnia, DEA menyatakan pendapatnya sebagai berikut: “Terlalu jauh jika masyarakat Sunda menuntut menjadi Presiden Republik Indonesia. Pada kenyataannya, mereka belum memperlihatkan prestasi yang menonjol dalam memimpin wilayah sendiri. Ginandjar Kartasasmita (2011) di salahsatu Koran lokal Jawa Barat juga menyebutkan bahwa menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, dipastikan tidak akan ada orang Sunda yang manggung di kancah politik nasional sebab tidak ada satu orang Sunda pun yang menduduki ketua partai maupun sekjen partai politik. Ginanjar (2011) memaparkan alasan hal tersebut muncul karena kurang atau lemahnya pengkaderan oleh masyarakat Sunda terhadap parpol dan budaya “mangga ti payun” dikalangan masyarakat Sunda mempengaruhi minat karir pada orang sunda itu sendiri dan slogan ini harus diubah. Ketua Badan Musyawarah Masyarakat Sunda (Bammus) tidak sependapat dengan pernyataan Pak Ginanjar, menurutnya tidak benar bahwa tidak ada masyarakat Sunda yang menjadi top pimpinan di pusat, ia yakin ada namun tidak terekspos atau tidak mau  diekspos. Hal tersebut juga merupakan ciri khas orang Sunda yaitu tidak mau muncul dipermukaan alias “mangga anu sanes heula ti payun”. Hal ini menimbulkan stereotipe negatif pada orang Sunda. Stereotipe adalah anggapan/ persepsi atau atribut kepada suatu kelompok dari kelompok lain (di luar kelompok itu).

Stereotipe pemalas, tidak percaya diri, dan pandai mencari muka pada orang Sunda sudah tidak dapat disanggah lagi karena kebanyakan orang Sunda memang demikian. Tetapi penulis berpendapat bahwa tidak semua orang Sunda mempunyai karakter seperti itu atau dikatitkan dengan karakter Si Kabayan karena wilayah tataran Sunda tidak hanya pegunungan seperti tempat tinggal Si Kabayan namun meliputi juga pesisir pantai dan perkotaan. Seperti yang tadi dikemukakan di atas bahwa kepribadian/ karakter dipengaruhi oleh lingkungan maka tentunya karakter orang sunda yang tinggal di pesisir pantai dan wilayah perkotaan tidak sama dengan karakter yang tinggal di pegunungan.

Orang Sunda yang tinggal di pesisir pantai dan perkotaan memiliki karakter yang berbeda dengan sosok kabayan. Orang-orang Sunda  dari pesisir pantai cenderung memiliki karakter yang sama seperti kebanyakan orang pesisir pantai dimanapun berada. Mereka mempunyai karakter yang tegas, percaya diri, dan pekerja keras, selain itu mereka juga terbiasa mengkonsumsi ikan segar yang sangat baik untuk perkembangan otak manusia sehingga mereka cenderung memiliki kecerdasan yang tinggi. Mereka ada yang berkiprah di berbagai bidang diantaranya bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta bidang lainnya bahkan diantara mereka merupakan orang polpuler. Karakter orang Sunda yang tegas, percaya diri dan pekerja keras  tidak populer dikenal oleh masyarakat Jawa Barat sendiri lebih-lebih oleh orang luar. Umumnya orang mengenal karakter orang Sunda adalah seperti kabayan

Melalui telaah ini, penulis ingin mengenalkan Orang Sunda kepada pembaca bahwa sebenarnya tidak semua karakter orang Sunda itu seperti si kabayan yang dikenal sebagai karakter yang santai, cenderung malas dan mengalah (tidak percaya diri) namun ada juga orang Sunda yang memiliki karakter berbeda dengan Si kabayan karena dipengaruhi oleh lingkungan geografis dimana ia tinggal yaitu karakter yang tegas, percaya diri dan pekerja keras. Dengan demikian diharapkan orang Sunda tidak lagi dikenal dengan stereotif tersebut karena sterotipe negatif khususnya dapat menimbulkan dampak buruk bagi seseorang atau sekelompok orang yaitu dapat mempengaruhi seseorang/ sekelompok orang menjadi tidak percaya diri atau mencutkan nyali. Dengan stereotipe orang Sunda tersebut dapat mempengaruhi orang Sunda dalam pergaulannya sehingga menjadi sulit untuk melepaskan stereotipe tesebut. Namun penulis berharap dengan mengetahui bahwa orang Sunda juga dapat dikenal sebagai karakter yang tegas, percaya diri dan pekerja keras maka orang Sunda pun dapat percaya diri dalam aktivitasnya, Terima kasih. Semoga Bermanfaat. (MK/AR)

Oleh Imas Siti Fatimah, S.Sos (Guru Sosiologi SMA Plus Babussalam)

Referensi

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sunda

http://www.journal.uinsgd.ac.id/index.php/psy/article/viewFile/2208/1538

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here