Bagi mereka  yang pernah belajar Sosiologi sangat mengenal siapa Auguste Comte yang merupakan Bapak Sosiologi Dunia, selain itu Emile Durkheim, Max Weber, ataupun Herbert Spencer karena merupakan tokoh-tokoh Sosiologi yang dikenalkan ketika mulai belajar Sosiologi, namun sedikit yang mengetahui sebenarnya dari dunia Islam juga lahir Tokoh Sosiologi yaitu Ibnu Khaldun.

Siapakah Ibnu Khaldun ? Nama Lengkapnya adalah Wailuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin Al Hasan yang kemudian dikenal dengan sebutan Ibnu Khaldun. Beliau hidup pada tahun 1332 – 1306 M jauh sebelum Auguste Comte (1798 -1887 M).  Beliau merupakan keturunan dari sahabat Rasululloh yaitu Wail Bin Hujr dari Kabilah Kindah. Beliau lahir di Tunisia pada Bulan Ramadhan 732 H atau bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1732 M.

Salah satu karya beliau berjudul Muqoddimah yang di dalamnya merupakan hasil penelitian beliau tentang perbandingan masyarakat nomaden dan masyarakat menetap. Berdasarkan hasil penelitiannya, beliau menyimpulkan bahwa karakter masyarakat nomaden berbeda dengan masyarakat menetap. Masyarakat nomaden berkarakter keras, kuat dan mempunyai solidaritas kelompok yang tinggi sedangkan masyarakat menetap cenderung mempunyai karakter yang terlalu nyaman dengan keadaan yang melenakan karena sudah tinggal menetap di suatu tempat sehingga kewaspadaannya juga berkurang sehingga mudah ditaklukan oleh masyarakat nomaden. Namun dalam perkembangannya masyarakat nomaden juga berubah karakter ketika menetap dan cenderung mengikuti kebiasaan bahkan karakter masyarakat menetap. Dari Hasil karyanya tersebut beliau memiliki pemikiran Sosiologis yang lebih maju pada jamannya dimana beliaulah sebenarnya yang merupakan peletak dasar pertama yang menyatakan bahwa kajian-kajian tentang masyarakat merupakan suatu ilmu. Apalagi bila kita kaitkan dengan artikel sebelumnya yaitu Mengenal Sosiologi dari Hikmah Turunnya Surat Al-Quraisy, dimana hikmahnya adalah bahwa Alloh menurunkan Surat Al Quraisy (1-4) itu merupakan bekal ilmu yang dberikan kepada Muhammad SAW dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang Rasul. Sekali lagi bekal ilmu  yaitu ilmu tentang masyarakat quraisy yang merupakan lahan dakwah beliau pada saat itu fase dakwah pertama yaitu Fase Mekkah.

Karya-karya Ibnu Khaldun diantaranya :

  • Kitab al-’Ibar wa Diwanul Mubtada’ awil Khabar fi Ayyamil ‘Arab wal ‘Ajam wal Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar
  • At-Ta’riif bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab sejarahnya);
  • Muqaddimah (pendahuluan atas kitabu al-’ibar yang bercorak sosiologis-historis, dan filosofis);
  • Lubab al-Muhassal fi Ushul ad-Diin (sebuah kitab tentang permasalahan dan pendapat-pendapat teologi, yang merupakan ringkasan dari kitab Muhassal Afkaar al-Mutaqaddimiin wa al-Muta’akh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi).

Berkat karyanya yang mengkaji tentang masyarakat tersebut yaitu yang berjudul Muqoddimah Yang berarti Pembukaan, kemudian beliau dinobatkan menjadi BAPAK sosiologi Islam, tidak hanya itu beliau pun dikenal sebagai Sejarawan, ahli politik Islam bahkan dinobatkan pula sebagai Bapak Ekonomi Islam karena pemikiran-pemikiran beliau mengenai teori-teori ekonominya lebih logis dan realistis jauh sebelum Adam Smith (ahli Ekonomi Barat yang hidup pada rentang tahun 1723 -1790 M) mengemukakan tentang teori-teori ekonominya. Terbukti bahwa perkembangan ilmu di dunia Islam sebenarnya lebih dahulu dan lebih maju jika dibandingkan dengan perkembangan ilmu di dunia Barat, Namun kenyataan tersebut juga sedikit yang mengetahuinya. Bahkan ummat muslim itu sendiri sediikit sekali yang mengetahui bahwa sebenarnya Islamnya yang mempunyai sumber Ilmu yang super super lengkap yaitu Al-Qur;anul Karim.

Selanjutnya sebagai penutup dari kepribadian Ibnu Khaldun itu sendiri bahwa beliau merupakan seseorang yang dibesarkan di dalam keluarga muslim dimana beliau sejak kecil sudah belajar Al Qur;an dan sudah hafidz pada usia yang masih dini. Dari kenyataan tersebut dapat dipastkan beliau adalah seorang muslim yang sangat menjunjung tinggi kehebatan Al-Qur’an dengan ucapan beliau yaitu : “Ketahuilah bahwa pendidikan Alquran termasuk syiar agama yang diterima oleh umat Islam di seluruh dunia Islam. Oleh karena itu pendidikan Alquran dapat meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Dan pengajaran Alquran pun patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu-ilmu yang lain.” Dari perkataan beliau tersebut menunjukkan bahwa Al Qur’an merupakan sumber dari segala ilmu yang harus didahulukan dari ilmu-ilmu yang lain yang ternyata ilmu-ilmu yang lain pun berasal dari Al-Qur’an. Mudah-mudahan generasi Islam memahami hal tersebut dan dapat mengamalkannya, sehingga tidak ada pemisahan antara ilmu agama (Al Qur’an) dan ilmu Dunia (ilmu-ilmu selain itu).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here